Sebut saja namanya Lucky Artalino, anak laki-laki yg baru pertama kali masuk ke salah satu SMP negeri ditahun 2003 ini hidup dengan keluarga yg terpisah karena orang tuanya sudah cerai saat dia masih berumur 10 tahun. Mungkin sikap pendiam dan lebih suka menyendiri sudah melekat pada anak yg lebih suka dipanggil dengan sebutan "Lino" atau "Arta" itulah penyebab kenapa dia tidak memiliki banyak teman. Ditahun pertama (2003), mungkin dari sinilah awal dimulainya perjalanan Arta dalam menemukan jati diri sebagai "seseorang" yg sama sekali bukan seperti dia cita-citakan.
dan inilah kisahnya...
Pada hari pertama kali dia mengalami MOS (Masa Orientasi Sekolah) Arta tidak menunjukkan rasa bersalah ketika dia datang terlambat dan langsung duduk dibangku no 21 yg tentu saja itu membuat Haryadi anak kelas 3 yg terkenal bertubuh badak bermuka gorila itu berdiri dari tempat duduk guru dan dengan nada kasar memanggil Arta yg sedang merebahkan kepala di meja tempat duduknya.
"Heh... mbok pikir iki skolahane mbah'mu... salah wis teko telat nang kelas malah turu... ARTA !!!!! nomer absen 27 !!!!! maju kedepan...!!!!!" Kontan seluruh isi kelas jadi pada ketakutan kecuali Arta.
dengan nada mengantuk karena semalaman ga tidur dia cuma bilank "Sorry... tak pikir iki kelasku... hehehe..."
jawaban itu serentak membuat seluruh isi kelas tertawa... tetapi tidak dengan Haryadi yg sering aktif didalam kegiatan Pramuka. dan sebelum Arta keluar dari kelas, Haryadi sudah menarik kerah baju Arta kembali masuk kedalam kelas.
prilaku itu ternyata tidak membuat Arta yg sudah mengantuk stadium 3 itu marah dan berhenti berjalan keluar kelas. Haryadi yg malu karena ditertawakan anak kelas 1 berlari keluar mencari Arta yg sudah tergeletak di dalam mushola (salah satu fasilitas sekolah yg lumayan ayem).
tak terasa 3 jam berlalu saat Haryadi belum juga menemukan Arta, suara penuh wibawa dari pak Agus guru agama islam membangunkan Arta yg masih menikmati sisa liur hingga tetes terakhir.
"hei... kamu... kenapa tidur disini ??? bukannya kamu harus masuk ke kelas ???"
"maaf pak tapi saya sudah ga tahan... karena sejak dari tadi malam saya ga tidur" jawab Arta yg masih setengah sadar.
"ngapain aja kamu semalam ??? begadang ???" tanya pak Agus.
"Bukan pak... tapi saya klo malem sibuk kerja bantu-bantu mama... maklum papa mama saya kan udah cerai"
"ooohh... ya sudah... tapi saya harap kamu bisa menahan sampai kegiatan MOS selesai" tegas pak Agus.
"baik pak... maaf" seraya berjalan terburu untuk cepat-cepat mengenakan sepatu untuk kembali ke kelas. dan sekali lagi pak Agus bertanya "Hei... siapa nama kamu ???"
"Arta pak... lengapnya Lucky Artalino" jawab Arta yg sedang sibuk memakai sepatu.
"nanti temui saya diruang guru waktu jam istiraha..."
"iya pak..." jawab Arta sambil berjalan menuju Kelas 1-E.
waktu melewati kelas 1-D ada 1 anak keluar kelas dengan tergesa-gesa dan menabrak Arta. Kontan Arta yg kaget dengan expresi campur aduk mengucapkan kata-kata makian dengan cepat "Eh Jan*ok, Ma*amu, A*u, Kir*k...!!!!!" dan tak lama kemudian ada suara dari dalam kelas berteriak "yek... lanang latah...!!!!!".
bagaikan disambar petir tanpa aba-aba untuk persiapan menghindar akhirnya terbuka sudah "Aib" yg dengan susah payah di sembunyikan.
dan ketika hendak berlari menghindar dari cengkraman dari OSIS tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Arta si Haryadi musuh besar (badannya) Arta yg siap untuk membalas dendam.
tanpa babibu Arta sudah berada didepan kelas 1-D untuk memperkenalkan diri. dan dengan nada enteng Arta mulai bicara "Nama saya Lucky Artalino, umur 15 tahun, berasal dari SD HANGTUAH 5 Surabaya..."
tiba-tiba suara dari salah satu OSIS bertanya dengan nada penuh penasaran "hah... koen murid'e bu Widji ???"
"iyo... opo'o ???"
sejenak para OSIS berdiskusi (berbisik-bisik) kemudian salah satu dari mereka pun menjawab "wis... lungguh'o nang sebelah'e arek iku..." seraya menunjuk ke bangku yg kosong.
tak lama kemudian dateng cewe dari kelas 2 memanggil Arta dan mengajaknya ke Aula sambil bertanya...
"koen murid'e bu Widji tah ??"
"iyo..."
"aku sik heran... biasane nek murid'e bu Widji iku arek'e mesti wedi'an... tapi koen koq seje dhewe ???"
"mungkin karena aku wis menter..." jawab Arta dengan enteng.
"hah ???"
"iyo... menter... gak tau ngerjak'no PR, sering mbolos, mesti lali gak nggowo buku, paling parah nek pas ulangan malah turu..."
"wih... sangar kon...!!!"
dan merekapun bercanda tawa di Aula dengan menceritakan kejelekan masing-masing sewaktu menjadi murid bu widji.
jam dinding di Aula menunjukkan pukul 09.00 dan bel istirahat pun berbunyi...
"mbak aku nang ruang guru dhisik yoh... wis di enteni karo pak Agus"
"sep... tak enteni nang kantin nek wis mari..." jawab cewe OSIS yg sama sekali belum menyebutkan namanya.
tok..tok..tok... "siapa ?"
"ini saya pak... Arta" jawab Arta sambil membawa se'plastik es campur yg dia beli dari warung diluar sekolah.
"ooohh kamu toh... sini masuk... bapak mau bicara..." seraya menunjukkan kertas fotocopy'an yg sudah berisi nama yg siap ditandatangani.
"ini apa pak ??" tanya Arta dengan penuh rasa penasaran.
"ini bantuan dari sekolah yg khusus diberikan pada siswa yg kurang mampu selama 2 tahun" jawab pak Agus dengan senyum yg bikin Arta hampir muntah.
"hah ?? jadi saya dapat beasiswa nih pak ??"
"iya... kamu dapat beasiswa karena anak seumuran kamu masih belum layak bekerja apalagi sampai tidak tidur" jawab pak Agus sambil memberikan pena.
"wah trimakasih lho pak..."
"iya sama-sama"
sebelum Arta meninggalkan ruang guru pak Agus berkata "jangan lupa besok bawa orangtuamu untuk menemui saya diruang guru"
"ok... pak..."
sambil berlari menuju kantin tiba-tiba dari arah berlawanan seseorang menepuk bahu Arta...
"hoi... luck... yo'opo kabare rek...??" sapa seorang anak laki-laki bertubuh tegap dan tidak lebih tinggi dari Arta dengan kulit sawo (ke)matang(an).
"hah ??? apik... tapi sopo koen ???"
"walah... mosok lali rek... iki aku dewan sing lungguh nang mburimu pas..."
"oalah... sorry tapi aku gak sempet ndelok hehehe..."
"kate nang endi koen ??"
"kate nang kantin melok tah...???"
"gak wis aku kate nang ricky arek kelas 1-C"
"ok... tak tinggal sik yoh..."
"yo'i" dan merekapun berpisah didalam keramaian suasana istirahat sekolah.
tak lama kemudian datang si cewe yg belum menyebutkan nama tadi menghampiri Arta dan mereka pun kembali melepas tawa bersama anak-anak kelas 2 yg juga teman si cewe tadi. lama-lama Arta pun menanyakan nama karena sudah kepalang tanggung rasa penasaran yg kian menjamur...
"mbak jenenge sopo seh ??"
"sopo ?? aku tah ??? jenengku Ningsih... tapi arek-arek nek nyeluk aku Asih..."
"oalah... mbak Asih toh"
yup Asih adalah cewe pertama kali yg mengajak bicara dan bercanda si Arta selama MOS. beberapa informasi tentang semua yg ada di dalam sekolah itu didapat dengan mudah dari Asih. hingga saat MOS berakhir Asih tidak lagi terlihat oleh Arta karena sudah di pindah sekolahkan di jawa barat oleh orangtuanya.
selang 1 minggu berlalu, Arta yg melamun di sudut kantin tiba-tiba dikejutkan oleh adanya selebaran info tentang "Pensi tahunan" yg sengaja digelar oleh kepala sekolah untuk me'refresh pikiran siswa agar tidak terlalu lelah untuk menghadapi ujian tengah semester. di dalam selebaran tersebut juga ada beberapa lomba yg kan dilaksanakan seperti lomba menggambar, mengarang puisi, membuat lagu, olah vocal, dan aritmatika.
pada saat itu Arta memang tidak tertarik pada pensi yg akan diadakan 1 bulan dari sekarang, tapi karena sudah merupakan keputusan bu Ruhui guru bahasa indonesia yg pada saat itu menjadi wali kelas 1-B. Arta pun menyanggupi untuk mengikuti 2 dari 5 kategori lomba yg sudah disediakan. yaitu mengarang puisi dan membuat lagu.
latihan demi latihan dengan dibantu oleh 2 temannya Wahyu dan Dimas 1 lagu berjudul "saat ku kembali berjalan" pun selesai di buat (maaf di segment yg ini lagu dan puisi dalam bentuk aslinya sudah lama hilank) karena anak-anak ga mau ambil pusink akhirnya puisi yg Arta buat sekalian dibikin lagu biar lebih efisien.
tibalah saatnya untuk "berkompetisi dalam pensi" (judul acara). tiap-tiap kelas sudah selesai mengumpulkan lagu yg siswa buat begitu pula dengan Arta yg dibantu oleh Dimas dan Wahyu. dan ketika lomba baca puisi berlangsung Arta yg tadinya tertidur di kelas tiba-tiba terbangun dan kemudian berlari menuju kelas 1-C dimana lomba baca puisi dilaksanakan.
Arta terbangun dan berlari karena dia mendengar suara cewe yg terdengar tak asing lagi baginya. suara yg membuat Arta membuka lebar-lebar matanya yg masih setengah hidup. dengan penuh konsentrasi dia mencoba mengamati siapa yg memiliki suara dari balik pintu kelas 1-C yg masih tertutup rapat.
"Shinta...!!!" teriak salah satu murid yg masih 1 kelas dengan Arta.
"so..sopo ??? Shinta ????? je..jeneng..e Shinta ??????????"
"iyo..."
tiba-tiba bu Ruhui datang dari arah ruang guru menuju Arta dan berkata...
"Ar... kamu yg menggantikan si Dewi lomba olah vocal... soalnya dewi lagi sakit"
"Waduh... buk ojok aku... suaraku fals" jawab Arta dengan mengiba dan raut muka mirip pengemis jalan diponegoro.
"sudah final... ga ada tapi-tapian" seraya meninggalkan Arta yg kebingungan.
disela-sela ricuhnya siswa yg berlalu-lalang, Arta berusaha mencari solusi bagaimana untuk menghindar dari lomba olah vocal. tetapi dia juga masih penasaran dengan cewe kelas 1 bernama Shinta si pemilik suara yg membuat Arta setengah mampus. belum lagi direpotkan oleh Wahyu dan Dimas yg hilang entah kemana...
To be continue...
Kamis, 13 November 2008
Langganan:
Postingan (Atom)